Artikel

BPPT Ciptakan Alat Diagnostik Demam Berdarah, Kecil Mirip Test Pack

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), setidaknya ada 94 orang yang meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada awal 2019, tepatnya hingga 24 Januari. DBD adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang sudah terinfeksi virus dengue.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Ari Fahrial Syam mengatakan demam berdarah merupakan penyakit endemis di Indonesia. Menurutnya, kasus demam berdarah dapat ditemukan sepanjang tahun di Indonesia.

Semakin dini seseorang diketahui menderita demam berdarah, maka semakin mudah penyakitnya untuk ditangani sehingga tidak mudah jatuh ke berbagai komplikasi seperti syok dan perdarahan yang lebih sulit ditangani.

“Kasus-kasus demam berdarah seharusnya tidak datang terlambat ke rumah sakit, karena makin terlambat semakin susah untuk ditangani,” kata Ari, sebagaimana dilansir Antara.

Ilustrasi anak demam. (Foto: Nadia K. Putri)

Masalahnya, masyarakat kerap telah atau bahkan tidak menyadari ada keluarga mereka yang terkena demam berdarah. Siklus demam berdarah yang seperti layaknya pelana kuda, membuat masyarakat seakan terlena karena demam tinggi mereda setelah tiga hari dan menganggap bahwa itu merupakan sudah sembuh. Padahal fase tersebut merupakan fase kritis seseorang yang terkena DBD.

Sebelumnya, untuk bisa mendiagnosis apakah seseorang menderita penyakit DBD apa tidak, maka satu-satunya cara yang harus lakukan adalah orang tersebut perlu menjalani tes darah di laboratorium atau rumah sakit. Kondisi ini dianggap tidak praktis sehingga membuat banyak orang malas memeriksakan diri.

Menyadari kondisi itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan kit diagnostik yang bisa mendeteksi DBD. Dengan peralatan ini, masyarakat bisa melakukan pengujian sendiri di rumah tanpa harus ke laboratorium atau rumah sakit.

Alat Diagnostik Penyakit Demam Berdarah (Foto: Dok. BPPT)

Alat diagnostik ini merupakan pengembangan anti NS1 antibodi monoklonal (mAb) berbasis virus dengue lokal. Bentuk alat ini kecil mirip alat tes kehamilan atau test pack dan cara penggunaan keduanya pun cukup mirip.

Bedanya, sampel yang digunakan pada alat diagnostik demam berdarah ini adalah darah yang ingin diuji, bukan urine. Alat ini harus diletakkan mendatar agar darah mengalir pelan. Jika alatnya berdiri, maka akan mengurangi keakuratan pendeteksian.

“Kalau ternyata yang bersangkutan positif DBD, maka garis pada alat itu dua. Sementara kalau negatif, garisnya hanya satu,” kata Irvan Faizal, perekayasa BPPT yang melahirkan inovasi itu, kepada Antara.

Alat Diagnostik Penyakit Demam Berdarah (Foto: Dok. BPPT)

Alat diagnostik DBD ini dibekali satu jarum steril yang digunakan untuk melakukan tes DBD. Waktu yang diperlukan untuk mengetahui seseorang positif DBD atau tidak, cukup 10 menit saja.

Alat ini bekerja dengan mendeteksi NS1 Dengue. Antigen NS1 merupakan protein yang dihasilkan virus dengue pada hari pertama hingga kelima setelah terjadinya infeksi.

Antigen NS1 memiliki peran besar dalam mendiagnosis infeksi dengue karena disekresikan dalam konsentrasi yang cukup tinggi di plasma atau serum penderita DBD. Selain itu, antigen NS1 muncul lebih awal dibandingkan antibodi antidengue.

Alat Diagnostik Penyakit Demam Berdarah (Foto: Dok. BPPT)

Irvan menyebut sebenarnya sudah ada sejumlah alat pendeteksi DBD yang berasal dari luar negeri. Akan tetapi, menurutnya, alat diagnostik DBD buatan BPPT ini lebih akurat dan juga lebih murah.

Tingkat keakuratan alat ini mencapai 98 persen dan harganya di bawah Rp50.000. Sedangkan harga alat diagnostik impor adalah sekitar Rp150.000.

Perekayasa lulusan Hiroshima University, Jepang, itu mengatakan alat ini lebih akurat untuk dipakai masyarakat Indonesia karena dibuat dengan menggunakan bahan baku antibodi monoklonal berdasarkan strain lokal Indonesia.

“Alat ini lebih akurat, karena menggunakan virus nyamuk lokal di Indonesia. Perlu penelitian selama tiga tahun untuk mendapatkan sampel dari Sabang sampai Merauke,” tambah Irvan yang merupakan Kepala Program Kit Diagnostik DBD BPPT itu.

Alat Diagnostik Penyakit Demam Berdarah (Foto: Dok. BPPT)

Irwan meyakinkan, alat ini mudah digunakan, bahkan bagi masyarakat awam sekalipun. Hasil deteksi bisa diperoleh dengan cepat dan tidak memerlukan alat lain dalam penggunaannya.

Dengan alat ini, maka setiap orang bisa mendeteksi apakah panas yang diderita oleh dirinya atau keluarganya hanya panas biasa atau DBD. Begitu positif DBD, maka yang bersangkutan perlu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

Irvan mengungkapkan, rencananya alat pendeteksi ini akan diproduksi Kimia Farma dan dijual ke pasaran pada April mendatang. Dia berharap alat ini dapat mendeteksi banyak kasus DBD lebih dini sehingga mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa.