Berita Tambang

Ekonomi China Melambat, Harga Batu Bara Ikut Merana

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara patokan Newcastle kontrak Februari di Bursa ICE kembali tergelincir 0,51% ke posisi US$ 97,2/metrik ton pada penutupan, Kamis(7/2/2019). Perlambatan ekonomi dunia pun menjadi salah satu penyebabnya, terutama perlambatan ekonomi di China.

China mengumumkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 hanya sebesar 6,4%, ini merupakan pertumbuhan paling lambat sejak 1990. Dengan perlambatan ekonomi China, maka pasar mengasumsikan permintaan energi batu bara juga akan terpangkas. Apalagi sekitar 72% energi listrik Negeri Tirai Bambu saat ini masih dibangkitkan oleh tenaga batu bara.

Berdasarkan data Refinitiv yang dilansir dari Reuters, impor batu bara China minggu lalu hanya di kisaran 3,57 juta ton, turun 23% dari minggu sebelumnya yang mencapai 4,67 juta ton. Pembatasan kuota impor China turut memberi andil pada sentimen negatif yang menghantui harga batu bara.

“Sejauh yang kami tahu, kapal angkut batu bara termal dan metalurgi Australia masih belum bisa lolos dari bea cukai di China. Ada juga laporan tentang petugas bea cukai [China] yang mengatakan kepada pelanggan bahwa pembatasan impor [batu bara] masih akan berlangsung setidaknya hingga akhir Februari,” ujar analis senior kepada pengusaha batu bara Singapura, mengutip Reuters.

Secara teknikal, harga batu bara cenderung bergerak turun. Hal ini tercermin dari pergerakannya yang bergerak di bawah rata-rata nilainya selama lima hari (moving average five/MA5), bahkan menembus penahan penurunannya (support) di level 97,35/dolar.

Diam-Diam Harga Batu Bara Turun, Selanjutnya?Sumber: Refinitiv

Mengacu pada indikator teknikal rerata pergerakan konvergen dan divergen (moving average convergence divergence/ MACD), harga batu bara pada posisi tren turun, di mana posisinya membentuk pola dead cross.

Harga batu bara berpotensi masih akan kembali turun melihat tren yang terjadi. Level  mendekati level penahan penurunannya (support) yang berpotensi di uji berada di 95/dolar.

TIM RISET CNBC INDONESIA (yam/tas)