Berita Tambang

Hilirisasi batubara Bukit Asam (PTBA) dimulai

KONTAN.CO.ID – TANJUNG ENIM. Punya cadangan berlimpah, Indonesia punya peluang menjadi pusat pengembangan industri petrokimia di lingkungan strategis ASEAN dan Asia. Hal ini dimulai dengan masuknya industri hilirisasi batubara di daerah, yang dinilai sangat penting untuk memperkuat struktur industri dan optimalisasi perolehan nilai tambah suatu daerah.

Pengembangan industri hilirisasi batubara, diharapkan bukan hanya untuk mengurangi impor, tapi juga dalam rangka mengembangkan ekspor. Industri petrokimia telah menjadi bagian penting dari semua sektor industri saat ini. Apalagi, industri petrokimia memiliki kaitan luas dengan industri terutama manufaktur.

Untuk itu, sektor industri petrokimia kerap menjadi tolok ukur tingkat kemajuan suatu negara selain industri baja. Airlangga pun siap mendorong industri hilir untuk berinvestasi.

“Tak heran jika keberadaan industri petrokimia sering menjadi backbone dari sebagian besar sektor industri di dunia,” ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam peresmian pencanangan industri hilirisasi batubara PT Bukit Asam (PTBA) di Tanjung Enim, Palembang, Minggu (3/3).

Menperin memaparkan, dengan jumlah penduduk menuju ke 270 juta jiwa dan dukungan sumber daya alam sebagai bahan baku industri petrokimia, baik yang tidak terbarukan maupun terbarukan, Indonesia berpeluang besar jadi pusat industri petrokimia.

Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan total minyak bumi sebesar 7,549 million tank barrel, cadangan total gas bumi 150,70 trillion cubic feet, dan cadangan total batubara 28,17 miliar ton.

Airlangga juga mengapresiasi langkah PTBA bersama dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk hilirisasi batubara kalori rendah.

Asal tahu saja, teknologi gasifikasi batubara, memungkinkan mengkonversi batubara kalori rendah menjadi syngas, yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan polipropilen sebagai bahan baku plastik.

Pabrik pengolahan gasifikasi batubara sendiri direncanakan mulai beroperasi pada November 2022. Diharapkan produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar sebesar 500.000 ton urea per tahun, 400.000 ton DME per tahun, dan 450.000 ton polipropilen per tahun.

“Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku sebesar 9 juta ton per tahun, termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listrik,” ujarnya.

Selain itu, ketersediaan batubara kalori rendah diakui cukup besar saat ini, sehingga jika harga batubara tersebut dapat mencapai US$ 30 per ton, maka dengan teknologi pengolahan yang terbaru akan menghasilkan syngas dengan harga US$ 5 million standard cubic feet per day (mmscfd). “Itu akan lebih murah dari harga gas di Sumatra sebesar US$ 10 seperti di kawasan Seimangke,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini pemerintah tengah menggenjot penerapan awal Industri 4.0. Terdapat lima sektor manufaktur yang difokuskan, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektronik.