Artikel

Renungan Awal Tahun 2019

CATATAN AKHIR TAHUN :
TSUNAMI, GEMPA, DAN LIKUIFAKSI – PELAJARAN TAK HENTI2 UNTUK BANGSA YG NGGAK NGERTI2.

Andang Bachtiar
GEOLOGIST MERDEKA

Apakah selama ini rezim2 pemerintahan kita sudah “melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia” dr bencana gempa bumi, tsunami, likuifaksi, letusan gunung api, banjir dan longsor dan kebakaran .. seperti diamanatkan di pembukaan UUD45 di atas?

BELUM!!

Kita hanya sibuk tergopoh2 menyelamatkan yg selamat, mengevakuasi yg mati, mengobati yg luka dan merehabilitasi infrastruktur yg hancur rusak karena bencana. Rezim-rezim pemerintahan kita selama ini GAK BEGITU SERIUS, GAK BEGITU PEDULI, CENDERUNG ABAI dg MITIGASI dalam rangka melindungi segenap bangsa Indonesia dr ANCAMAN/POTENSI bencana!!

Buktinya: Peringatan Prof Katili tahun 1970 supaya Palu tidak dijadikan ibukota / pusat pertumbuhan karena potensi bahaya gempa patahan Palu-Koro-nyapun tidak ditindak-lanjuti. Sampai akhirnya kejadian Gempa-Taunami Palu 2018 kmrn itu memakan korban 1000-an lebih nyawa melayang dan milyaran-triliunan rupiah infrastruktur rusak-hancur berantakan. Jelas terlihat: kita tidak melindungi segenap kehidupan rakyat Palu dan sekitarnya karena mengabaikan rekomendasi / usulan dr Prof Katili itu.

Ada lagi! Peta Potensi Bahaya Liquifaksi di Palu yang dibikin 2012 oleh lembaga pemerintahan sendiripun (Badan Geologi) tidak dipakai sbg acuan untuk mengatur tata ruang disitu. Tidak ada program mitigasi lanjutannya. Tidak ada penegakan aturan pembuatan bangunan yg disesuaikan dg kondisi tektonik aktif daerah tsb. Tidak dibikin pelatihan2 massal ke masyarakat untuk menyelamatkan diri kalau ada bencana. Akibatnya ketika sdh terjadi kejadian gempa tsunaminya: ribuan nyawa melayang, milyaran – triliunan harta benda, rumah dan infrastruktur hilang dan hancur berantakan. Nah, apalagi istilah yg dapat diberikan untuk respon pemerintah (pusat maupun daerah) atas PETA ZONASI BAHAYA LIQUIFAKSI yg resmi dibikin pemerintah sendiri tapi nggak pernah diimplementasi sampai terjadi bencana dan banyak korban begini kalau bukan ABAI, NGGAK PEDULI, DAN SALAH LANGKAH ANTISIPASI??? Sekali lagi: jelas terlihat: pemerintah kita belum melindungi segenap kehidupan bangsa – rakyat Palu dan sekitarnya dengan tdk menindaklanjuti peta likuifaksi tersebut.

Dan yg akhir tahun ini sedang berlangsung: ancaman terjangan tsunami di Selat Sunda-pun menjadi kenyataan 22 Desember 2018 yg lalu. Itupun dg kemungkinan masih ada lagi “susulan”nya di hari-hari mendatang: tergantung dari ketepatan prediksi tentang ada/tiada-nya material2 volkanik Anak Krakatau yg masih bisa longsor ke lut dalam jumlah besar, meskipun katanya HARI INI 31 Desember 2018 sdh mulai reda batuk2nya. Korban nyawa sdh 4-5ratusan, dan masih mungkin bertambah krn ada yg hilang. Selain itu: rusaknya bangunan rumah, hotel, dan infrastruktur umum lainnya krn terjangan tsunami bisa mencapai ratusan milyar dan mungkin triliunan untuk merehabilitasinya. Padahal berbagai analisis ilmuwan sebelumnya sdh dipublikasikan tentang kemungkinan tsunami akibat gempa megathrust selat Sunda (Widjokongko, 2018; Natawidjaya, 2014) ataupun akibat longsor-nya tubuh gunung api Anak Krakatau (Giachetti, dkk, 2012 – termasuk peneliti BPPT Dr Budianto – Didit – Ontowiryo sbg co-authornya). Tapi nggak pernah analisis2 dan rekomendasi2 ilmiah sampai menjadi kebijakan yg diimplementasi jadi program2 mitigasi SAMPAI AKHIRNYA KEJADIAN BENCANANYA DATANG, dan semuanya menyesali!!!! Apakah pemerintah kita sdh melindungi segenap bangsa rakyat Banten dan Lampung dan para pelancong dr berbagai daerah di pantai2 Selat Sunda dr bahaya tsunami? Dari uraian di atas jawabnya jelas: Belum!!

GAK NGERTI2 JUGA

Padahal seolah-olah tak henti2nya Allah memberikan pelajaran/peringatan ke kita supaya BENAR2 MELAKUKAN MITIGASI YG BENAR, SERIUS, TERUKUR DAN ANTISIPATIF. Bukan hanya tergopoh2 melakukan respon waktu terjadinya bencana, tapi bersiap dengan segala kegiatan mitigasi yg BIAYANYA JAUH LEBIH KECIL DRPD KERUGIAN AKIBAT BENCANA YG SAMA SEKALI TDK DIANTISIPASI. Tetapi, meskipun tak henti2nya pelajaran diberikan kepada kita, sampai skrg GAK NGERTI2 JUGA KITA.

Buktinya: himbauan2 untuk ambil pelajaran dr bencana2 itu untuk segera bikin usaha mitigasi di lokasi2 lain yg diprediksi rawan thdp gempa, tsunami, dan likuifaksipun sdh dituliskan )malah sdh diteriakkan), tapi tak kunjung dilakukan oleh pemerintah. SEMUA SIBUK MENJELASKAN APA YG TERJADI DAN PENYEBABNYA, bahkan duit budget anggaran direlakan untuk memastikan survei2 AFTER THE FACT yg tdk mungkin bisa menghidupkan yg mati atau menegakkan kembali bangunan2 yg rusak atau ditelan bumi. Masih mending setelah itu kita rame2 FOKUS PADA PROYEK2 REHABILITASI (itupun masih juga ada yg dikorupai). Tapi kita sama sekali lupa bahwa hal serupa bisa juga terjadi di daerah2 lain yg sebenarnya sdh distudi oleh ilmuwan2 kita sg berbagai tulisan paper dan buku mereka dimana-mana di forum2 ilmiah.

SUDAH TERJADI PULUHAN – BELASAN TAHUN YG LALU

Bukan hanya akhir-akhir ini saja ke”nggak-ngerti”an bangsa ini terjadi. Beberapa belas tahun yg lalu, peringatan dr ilmuwan peneliti tentang megthrust Simelueu sebelum gempa tsunami Aceh 2004 – pun tdk pernah sampai di pengambil kebijakan untuk ditindak-lanjuti. Padahal sebelumnya Danny Hilman Natawidjaya telah meneliti siklus periodisitas gempa-tsunami Simeuleu itu dan menjadikannya tulisan Dissertasi dan juga mempresentasikannya di forum-forum ilmiah (Natawidjaya, 2004).

Masih belasan tahun yg lalu juga, peringatan dr IAGI bahwa swarming effect gempa tsunami Aceh akan merambat ke selatannya juga gak diantisipasi dengan bijak oleh pemerintah, hingga muncul gempa Nias, gempa Mentawai dst di 2005 dst.

Secara normatif seringkali himbauan pemerintah adalah : “tetap tenang dan waspada, jangan terpengaruh isu2 yg tidak bertanggung-jawab, dsb dst”. Tapi tidak ada usaha2 fisik untuk mengurangi resiko bencana itu secara proporsional.

BMKG, BNPB, BADAN GEOLOGI

Bagaimana dengan lembaga2 yg sdh dibentuk pemerintah untuk urusan bencana2 kebumian itu? Apakah mereka pernah belajar dr bencana2 itu dan makin mengerti untuk melakukan Mitigasi???

BMKG nampaknya tidak melakukan mitigasi, BMKG hanya memberitakan kalau telah terjadi gempa dimana dengan besaran berapa dan mengeluarkan peringatan akan ada tsunami atau tidak. Setelah gempa terjadi terus rame2 menjelaskan itu semua karena apa (penunjaman lempeng, sesar mendatar, atau yg populer akhir2 ini: karena longsoran…), kemudian diakhiri dengan “tetap tenang dan waspada”.

BNPB juga: usaha mitigasinya nggak pernah ter-ekspos dan jadi bagian penting program kelembagaan karena fokusnya di Penanggulangan (walaupun ada juga bagian mitigasinya). Paling banter setelah kejadian BNPB akan berperan juga di rehabilitasi – meskipun kita sama2 tahu leading sectornya di rehabilitasi itu kementrian PUPR dengan dana pembangunan sarana fisiknya.

Badan Geologi yg tupoksinya banyak terkait dg usaha mitigasi, seperti menerbitkan peta zona bahaya Gn Api – yg memang sdh cukup bagus, dan juga Peta Likuifaksi spt yg di Palu itu, nampaknya juga kurang punya gigi untuk terus mendesakkan peta2 hasil mitigasinya ke lembaga2 terkait lainnya untuk ditindak-lanjuti.

WHERE NEXT?

Kalau (rezim pemerintahan) kita mengerti, maka seharusnyalah peringatan2 bencana kebumian yg berturut2 terjadi itu juga menyiapkan kita semua untuk melakukan mitigasi di daerah2 yg sdh berkali-kali di-identifikasi oleh para peneliti punya potensi serupa untuk terjadi.

Kapan waktunya? Ada yg periodisitasnya sdh bisa diprediksi dengan standard deviasi 25-50 tahun, ada juga yg blm bisa diprediksi tapi besaran bencana – kekuatannya sdh bisa dikira-kira akan terjadi. Kapan akan terjadi? Bisa besok pagi, bisa 3 – 4 bulan lagi (pas Pemilu ? 😳🤷‍♂), bisa 2 tahun lagi, bisa 10 tahun lagi, dst … Yg jelas : mereka PASTI akan bergerak lagi.
Makanya jadi lebih penting untuk menyiapkan diri.

Bagaimana persiapan dirinya? Yg belum sepenuhnya diteliti, ayo lebih diteliti, luangkanlah uang biaya budget untuk meneliti yg hasilnya seringkali berupa tulisan di atas kertas, peta2, zonasi, grafik2 dan sejenisnya yg bukan berupa jalan toll, jembatan, ataupun bendungan spt yg selalu dibangga-banggakan selama ini. Tapi hasil kertas berupa peta2 itu bisa nantinya menyelamatkan jalan toll, jembatan, dan infrastruktur2 mahal itu kalau benar2 diikuti rekomendasinya.

Selain itu kalau alat2 peringatan dini dan alat2 untuk meneliti belum lengkap ayo kita lengkapi. Pasang GPS di pulau2 kecil di depan zona subduksi untuk memonitor lengkungan vertikal yg terjadi karena menahan gerakan lempeng yg nantinya akan “pecah” energinya jadi gempa dan tsunami. Juga buoy2 yg harganya 1 milyaran itu untuk peringatan dini tsunami. Ayo diperbaiki, diperbarui, ditambahi, terutama di daerah2 potensi yg akan diuraikan di bawah ini.

Juga evaluasi zona2 pemukiman dan infrastruktur umum di daerah lintasan gempa dan Zona rendaman tsunami! Kalau masih juga ada yg bangun di area sempadan pantai: bongkar saja dg segala konsekwensinya.

Juga cek kelayakan konstruksi bangunan2 di daerah2 potensi gempa dan tsunami. Kalau masih nggak cocok dengan kode bangunan konstruksinya maka harus diperingati, diperkuat,atau direkayasa (fisik, teknik, finansial) spy nantinya kuat tahan goyangan gempa (dan tsunami). Kalau belum ada peta detail zonasi gempa / kode bangunan konstruksinya ya dibikinlah peta zonasi detailnya. Pakai biaya pemerintah!

Juga mulai lakukan latihan2 berkala untuk menghadapi bencana2 gempa, tsunami dan liquifaksi itu. Anggaran latiihan2 nya alokasikan khusus dan jangan diganggu gugat untuk dipakai lainnya. Supaya nantinya nggak banyak korban kalau bencana terjadi.

Dibawah ini daftar potensi bencana gempa, tsunami dan liquifaksi di daerah2 yg sudah pernah distudi oleh para ilmuwan Indonesia maupun Luar Negeri yg disusun berdasarkan prioritas kemungkinan massifnya bencana dan kerugian yg terjadi.

Di 15 zona daerah inilah perlu difokuskan mitigasi. Sebelum telat nantinya berturut2 bencana itu terjadi. ITUPUN KALAU (PEMERINTAH) KITA NGERTI.

1. Gempa – Tsunami Megathrust Mentawai (Barat Padang-Bengkulu)

2. Gempa-Tsunami Megathrust Selat Sunda (Banten, Lampung, Bengkulu, SumBar, Jabar, DKI, Jateng, DIY, Jatim)

3. Gempa-Tsunami Pelabuhan Ratu – Cimandiri (Sesar Mendatar Cimandiri)

4. Gempa Sesar Mendatar Lembang

5. Gempa Sesar Naik Surabaya – Bojonegoro

6. Gempa dan Tsunami Sesar Naik Selat Madura

7. Gempa dan Tsunami Palu- Koro segmen selatan ke Teluk Bone

8. Gempa dan Tsunami Sesar Naik Offshore Sulawesi Barat (Mamuju dan sekitarnya)

9. Gempa dan Tsunami sepanjang pantai Sulawesi Utara dr Zona penunjaman Sulawesi Utara

10. Gempa dan Tsunami Tarakan dr Zona penunjaman Sulawesi Utara

11. Gempa sepanjang 12 segmen Sesar Sumatra (yg di Bengkulu hari ini aktif 5.7 SR)

12. Gempa Sesar Baribis (Jawa Barat Utara – DKI)

13. Gempa dan Tsunami Megathrust selatan Jember – Banyuwangi

14. Gempa dan Tsunami Megathrust Selatan Bali/Lombok/Sumbawa

15. Gempa dan Tsunami dan Liquifaksi Sesar Sorong dan Zona Penunjaman utara Papua.

SELAMAT TAHUN BARU 2019
SEMOGA (PEMERINTAHAN) KITA MAKIN CERDAS DAN MAKIN NGERTI MEMITIGASI BENCANA DI TAHUN BARU INI

Bekasi, 31 Desember 2018
23:59
Menjelang Tahun Baru 2019

ADB – Geologist Merdeka