Artikel

Termasuk Indonesia, Ini Daftar Negara “Kecanduan” Batu Bara

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah negara telah menyepakati pengendalian emisi karbon dengan menjaga kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius pada 2030 mendatang yang tertuang dalam Paris Agreement.
Salah satu upayanya yaitu dengan mengurangi konsumsi batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Namun nyatanya hingga 2020, masih banyak negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia yang tergabung dalam G20 belum memenuhi komitmen untuk mengurangi konsumsi batu bara.
Berdasarkan data Climate Transparency Report 2020, yang juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin, baru empat negara yang memiliki komitmen tinggi untuk keluar dari PLTU berbahan bakar batu bara.
Keempat negara tersebut antara lain Kanada, Prancis, Italia, dan Inggris. Mereka disebut siap mengejar target menjaga kenaikan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius pada 2030 atau bahkan lebih awal.

Sedangkan Jerman diperkirakan dapat menghentikan penggunaan batu bara pada 2038.

“Sementara kita (RI), China, Afrika Selatan, India belum tentukan untuk target penghentian batu bara. Ini kondisi dunia yang mau gak mau harus dilihat, jadi realita negara maju yang sudah siap sudah selesai dengan keekonomian energi, kita yang gerak ke sana hadapi isu itu,” tuturnya dalam webinar “Masa Depan Batu Bara dalam Bauran Energi Nasional” yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM secara daring, Senin (26/07/2021).

Berdasarkan data tersebut, berikut daftar negara yang dianggap masih tidak memiliki kebijakan yang jelas untuk mengurangi batu bara alias masih “kecanduan” batu bara:

1. Australia
2. India
3. Indonesia
4. Jepang
5. Mexico
6. Rusia
7. Afrika Selatan
8. Korea Selatan
9. Turki
10. Amerika Serikat

Sementara negara yang memiliki sejumlah kebijakan untuk mengurangi batu bara antara lain:
1. Brazil
2. China
3. Uni Eropa