ArtikelBerita Tambang

Simak strategi sejumlah emiten mengatasi kenaikan harga batubara

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga batubara masih membara. Mengutip data Bloomberg, harga batubara berada di level ICE Newcastle untuk kontrak September 2021 berada di level US$ 148,60 per ton pada perdagangan Rabu (4/8).

Meski demikian, kenaikan harga batubara ini menjadi momok tambahan bagi emiten yang menggunakan komoditas energi ini sebagai sumber bahan bakar, salah satunya PT Vale IndonesiaTbk (INCO).  

Sepanjang semester I-2021, INCO mencatat konsumsi batubara sebanyak 174.237 ton, menurun 13,47% dari penggunaan batubara di periode yang sama tahun lalu sebesar 201.365 ton. 

Meski demikian, harga terealisasi batubara INCO naik, dari semula US$ 104,2 per ton menjadi US$ 120,1 per ton.

Di kuartal II-2021, INCO mengonsumsi 81.773 ton batubara, turun dari konsumsi pada periode kuartal I-2021 sebesar 92.464 ton. Namun, harga realisasi batubara yang digunakan INCO naik menjadi US$ 126,3 dari sebelumnya US$ 114,7 di kuartal pertama.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, penurunan penggunaan batubara bukan karena alasan harga, tetapi karena isu teknis yang terjadi di pabrik pengolahan. 

Jika dilihat, penurunan konsumsi batubara dikompensasi dengan kenaikan konsumsi high sulphur fuel oil (HSFO).

“Secara kebutuhan energi tetap sama. Hanya saja energi yang rencananya diproduksi oleh batubara digantikan oleh HSFO karena alasan teknis,” terang Irmanto. 

Pada kuartal kedua, INCO mengonsumsi 351.750  barel HFSO, naik 21,81% dari realisasi penggunaan HFSO pada kuartal pertama sebesar 288.750 barel.

Bersamaan, harga rata-rata HFSO pun mengalami kenaikan, dari US$ 48,51 di kuartal pertama menjadi US$ 56,69 di kuartal kedua.

Irmanto menyebut, kenaikan harga dua komoditas ini tentu mendorong kenaikan biaya produksi, yang kemudian akan mengurangi laba produksi. Namun, dia meyakini prospek kinerja INCO yang ditopang oleh kenaikan harga nikel masih akan cerah.

Irmanto mengakui, sulit untuk memprediksikan harga batubara ke depan. Namun, sebagai bagian upaya mengurangi emisi karbon dari kegiatan operasi, INCO tengah melakukan studi untuk mengganti batubara dan minyak dengan sumber energi yang ramah lingkungan, seperti LNG atau bio mass. “Mudah-mudahan di akhir tahun ini kami bisa mendapatkan kejelasan dari studi ini,” terang Irmanto.

Emiten semen juga menjadi sektor yang banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 6,44% menjadi Rp 4,57 triliun. Salah satu komponen yang mengalami kenaikan adalah bahan bakar dan listrik, yang naik 14,16% menjadi Rp 1,83 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Antonius Marcos mengatakan, biaya energi mengalami kenaikan terutama akibat kenaikan harga batubara. Pada semester I-2021, sebanyak 43% dari total biaya produksi berasal dari biaya energi.

Meskipun biaya energi mengalami kenaikan terutama akibat kenaikan harga batubara, Marcos menyebut sejumlah strategi cukup berhasil menjaga kinerja INTP.

Strategi yang dilakukan seperti coal mixing (mencari campuran harga batubara terefisien), pengoperasian pabrik yang semakin efisien, program efisiensi di segala bidang yang dilakukan, serta volume penjualan yang lebih besar membuat laba usaha INTP meningkat tajam sebesar 69% pada semester I-2021.

Catatan Kontan.co.id, INTP juga saat ini sedang menyelesaian proyek fasilitas penerimaan refuse-derived fuel (RDF) di Citeureup. Fasilitas RDF ini nantinya akan mengolah limbah menjadi bahan bakar. INTP memperkirakan, proyek akan selesai di kuartal keempat tahun ini.

Analis BRIDanareksa Sekuritas Maria Renata dalam risetnya, Rabu (4/8) mengatakan, INTP mampu memitigasi kenaikan biaya karena emiten semen ini menggunakan batubara dari persediaannya, menggunakan bahan bakar alternatif, dan menggunakan porsi batubara berkalori rendah atau low calorific value (LCV) yang lebih tinggi.

Maria mencatat, per Juni 2021, sebanyak 11,7% dari campuran bahan bakar INTP berasal dari bahan bakar alternatif. Persentase ini meningkat dari 9,3% di akhir 2020. Adapun, porsi batubara kalori rendah yang digunakan mencapai 87% dari total bahan bakar fosil.

Tingginya perkiraan harga batubara di semester II-2021 dibarengi dengan jadwal pelunasan utang perusahaan kecil berskala kecil, berpotensi membuka peluang bagi pemain semen untuk meningkatkan harga jual rerata (ASP).

Maria mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga Rp 15.400.

Analis BRIDanareksa lainnya yakni Stefanus Darmagiri juga merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 6.300.